Entries (RSS)
KLIK SALAH SATU LINK IKLAN DIBAWAH UNTUK MENGHILANGKAN KOTAK INI
.

Melakukan Asuhan Keperawatan (Askep) merupakan aspek legal bagi seorang perawat walaupun format model asuhan keperawatan di berbagai rumah sakit berbeda-beda. Seorang perawat Profesional di dorong untuk dapat memberikan Pelayanan Kesehatan seoptimal mungkin, memberikan informasi secara benar dengan memperhatikan aspek legal etik yang berlaku. Metode perawatan yang baik dan benar merupakan salah satu aspek yang dapat menentukan kualitas “asuhan keperawatan” (askep) yang diberikan yang secara langsung maupun tidak langsung dapat meningkatkan brand kita sebagai perawat profesional. Pemberian Asuhan keperawatan pada tingkat anak, remaja, dewasa, hingga lanjut usia hingga bagaimana kita menerapkan manajemen asuhan keperawatan secara tepat dan ilmiah diharapkan mampu meningkatkan kompetensi perawat khususnya di indonesia

Asuhan Keperawatan Multiple Fraktur

IV. Klasifikasi patah tulang.

Patah tulang dapat dibagi menurut ada tidanya hubungan antara patahan tulang denga dunia luar, yaitu patah tulang tertutup dan patah tulang terbuka yang memungkinkan kuman dari luar dapat masuk kedalam luka sampai ke tulang yang patah.

Patah tulang terbuka dibagi menjadi tiga derajat yang ditentukan oleh berat ringannya luka dan berat ringannya patah tulang.

Patang tulang juga dapat dibagi menurut garis fraktrunya misanya fisura, patah tulang sederhana, patah tulang kominutif ( pengecilan, patah tulang segmental,patah tulang impaksi ), patah tulang kompresi, impresi dan patah tulang patologis.

Derajat patah tulang terbuka terbagi atas 3 macam yaitu :

1. laserasi <>

2. Laserasi > 2 cm kontusi otot diserkitarnya bentuknya dislokasi, fragmen jelas

3. Luka lebar, rusak hebat atau hilangnya jaringan disekitarnya bentuknya kominutif, segmental,fragmen tulang ada yang hilang

Jenis patah tulang dapat digolongkan menjadi :

1. Visura ( Diafisis metatarsal

2. Serong sederhana ( Diaphisis metacarpal )

3. Lintang sederhana ( diafisis tibia )

4. Kominutif ( Diafisis femur )

5. Segmental ( Diafisis tibia )

6. Dahan hijau ( diafisis radius pada anak )

7. Kompresi ( Korpus vertebral th. XII )

8. Impaksi ( epifisis radius distal,kolum femur lateral )

9. Impresi ( tulang tengkorak )

10. Patologis ( Tomur diafisi humerus,kurpus vertebral)

V. Komplikasi patah tulang .

Komplikasi patah tulang meliputi :

1. Komplikasi segera

Lokal :

· Kulit( abrasi l;acerasi, penetrasi)

· Pembuluh darah ( robek )

· Sistem saraf ( Sumssum tulang belakang, saraf tepi motorik dan sensorik)

· Otot

· Organ dalam ( jantung,paru,hepar, limpha(pada Fr.kosta),kandung kemih (Fr.Pelvics)

Umum :

· Ruda paksa multiple

· Syok ( hemoragik, neurogenik )

2. Komplikas Dini :

Lokal :

· Nekrosis kulit, gangren, sindroma kopartemen,trombosis vena, infeksi sendi,osteomelisis )

Umum :

· ARDS,emboli paru, tetanus.

3. Kompliasi lama

Lokal :

· Sendi (ankilosis fibrosa, ankilosis osal )

· Tulang ( gagal taut/lama dan salah taut,distropi reflek,osteoporosisi paskah trauma,ggn pertumbuhan,osteomelisis,patah tulang ulang)

· Otot atau tendon ( penulangan otot, ruptur tendon )

· Saraf ( kelumpuhan saraf lambat

Umum :

· Batu ginjal ( akibat mobilisasi lama ditempat tidur)

VI. Penatalaksanaan patah tulang.

Penatalaksanaan patah tulang mengikuti prinsip pengobatan kedokteran pada umumnya yang meliputi :

a. Jangan ciderai pasien( Primum Non Nocere).

b. Pengobatan yang tepat berdasarkanb diagnosis dan prognosisnya

c. Sesuai denga hokum alam

d. Sesuai dengan kepribadian individu

Khusus untuk patah tulang meliputi :

4. Reposisi

5. Imobilisasi

6. Mobilisasi berupa latihan seluruh system tubuh.

VII. Asuhan keperawatan.

ASUHAN KEPERAWATAN

1. Riwayat perjalanan penyakit.

2. Riwayat pengobatan sebelumnya.

3. Pertolongan pertama yang dilakukan

4. Pemeriksaan fisik :

§ Identifikasi fraktur

§ Inspeksi

§ Palpasi (bengkak, krepitasi, nadi, dingin)

§ Observasi spasme otot.

5. Pemeriksaan diagnostik :

§ Laboratorium (HCt, Hb, Leukosit, LED)

§ RÖ

§ CT-Scan

6. Obat-obatan : golongan antibiotika gram (+) dan gram (-)

§ Penyakit yang dapat memperberat dan mempermudah terjadinya fraktur :

a. Osteomyelitis acut

b. Osteomyelitis kronik

c. Osteomalacia

d. Osteoporosis

e. Gout

f. Rhematoid arthritis

PENGKAJIAN SISTEM MUSKULOSKELETAL

DATA SUBYEKTIF

§ Data biografi

§ Adanya nyeri, kekakuan, kram, sakit pinggang, kemerahan, pembengkakan, deformitas, ROM, gangguan sensasi.

§ Cara PQRST :

o Provikatif (penyebab)

o Quality (bagaimana rasanya, kelihatannya)

o Region/radiation (dimana dan apakah menyebar)

o Severity (apakah mengganggu aktivitas sehari-hari)

o Timing (kapan mulainya)

§ Pengkajian pada sistem lain

o Riwayat sistem muskuloskeletal, tanyakan juga tentang riwayat kesehatan masa lalu.

o Riwayat dirawat di RS

o Riwayat keluarga, diet.

o Aktivitas sehari-hari, jenis pekerjaan, jenis alas kaki yang digunakan

o Permasalahan dapat saja baru diketahui setelah klien ganti baju, membuka kran dll.

DATA OBYEKTIF

§ Inspeksi dan palpasi ROM dan kekuatan otot

§ Bandingakan dengan sisi lainnya.

§ Pengukuran kekuatan otot (0-5)

§ Duduk, berdiri dan berjalan kecuali ada kontra indikasi.

§ Kyposis, scoliosis, lordosis.

PROSEDUR DIAGNOSTIK

  1. X-ray dan radiography
  2. Arthrogram (mendiagnosa trauma pada kapsul di persendian atau ligamen). Anestesi lokal sebelum dimasukkan cairan kontras/udara ke daerah yang akan diperiksa.
  3. Lamnograph (untuk mengetahui lokasi yang mengalami destruksi atau mengevaluasi bone graf).
  4. Scanograph (mengetahui panjang dari tulang panjang, sering dilakukan pada anak-anak sebelum operasi epifisis).
  5. Bone scanning (cairan radioisotop dimasukkan melalui vena, sering dilakukan pada tumor ganas, osteomyelitis dan fraktur).
  6. MRI
  7. Arthroscopy (tindakan peneropongan di daerah sendi)
  8. Arthrocentesis (metode pengambilan cairan sinovial)

MASALAH-MASALAH YANG UMUM TERJADI

  1. Gangguan dalam melakukan ambulasi.

· Berdampak luas pada aspek psikososial klien.

· Klien membutuhkan imobilisasi → menyebabkan spasme otot dan kekakuan sendi

· Perlu dilakukan ROM untuk menguragi komplikasi :

- Kaki (fleksi, inverse, eversi, rotasi)

- Pinggul (abduksi, adduksi, fleksi, ekstensi, rotasi)

- Lutut (ekstensi)

- Jari-jari kaki (ektensi, fleksi)

  1. Nyeri; tindakan keperawatan :

· Merubah posisi pasien

· Kompres hangat, dingin

· Pemijatan

· Menguragi penekanan dan support social

· Apabila nyeri di sendi, perlu dikaji :

- Kejadian sebelum terjadinya nyeri

- Derajat nyeri pada saat nyeri pertama timbul

- Penyebaran nyeri

- Lamanya nyeri

- Intensitas nyeri, apakah menyertai pergerakan

- Sumber nyeri

- Hal-hal yang dapat mengurangi nyeri.

  1. Spasme otot

· Spasme otot (kram/kontraksi otot involunter)

· Spasme otot dapat disebabkan iskemi jaringan dan hipoksia.

· Tindakan keperawatan :

a. Rubah posisi

b. Letakkan guling kecil di bawah pergelangan kaki dan lutut

c. Berikan ruangan yang cukup hangat

d. Hindari pemberian obat sedasi berat → dapat menurunkan aktivitas pergerakan selama tidur

e. Beri latihan aktif dan pasif sesuai program

INTERVENSI

1. Istirahat

· Istirahat adalah intervensi utama

· Membantu proses penyembuhan dan meminimalkan inflamasi, pembengkakan dan nyeri.

· Pemasangan bidai/gips.

1. Kompres hangat

· Rendam air hangat/kantung karet hangat

· Diikuti dengan latihan pergerakan/pemijatan

· Dampak fisiologis dari kompres hangat adalah :

o Perlunakan jaringan fibrosa

o Membuat relaks otot dan tubuh

o Menurunkan atau menghilangkan nyeri

o Meningkatkan suplai darah/melancarkan aliran darah.

2. Kompres dingin

· Metoda tidak langsung seperti cold pack

· Dampak fisiologis adalah vasokonstriksi dan penerunan metabolic

· Membantu mengontrol perdarahan dan pembengkakan karena trauma

· Nyeri dapat berkurang, dapat menurunkan aktivitas ujung saraf pada otot

· Harus hati-hati, dapat menyebabkan jaringan kulit nekrosis

· Tidak sampai > 30 menit.

DAFTAR PUSTAKA

1. Tucker,Susan Martin (1993). Standar Perawatan Pasien, Edisi V, Vol 3. Jakarta. EGC

2. Donges Marilynn, E. (1993). Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Jakarta. EGC

3. Smeltzer Suzanne, C (1997). Buku Ajar Medikal Bedah, Brunner & Suddart. Edisi 8. Vol 3. Jakarta. EGC

4. Price Sylvia, A (1994), Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jilid 2 . Edisi 4. Jakarta. EGC

I. Pengertian.

Adalah terputuisnya kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh ruda paksa. Trauma yang menyebabkan tulang patah dapat berubah trauma langsung, misalnya benturan pada lengan bawah yang menyebabkan patah tulang radius dan ulna, dan dapat berubah trauma tidak langsung, misalnya jatuh bertumpu pada tangan yang menyebabkan tulang klavikula atau radius distal patah.

Akibat trauma pada tulang tergantuing pada jenis trauma,kekuatan, dan arahnya.Taruma tajam yang langsung atau trauma tumpul yang kuat dapat menyebabkan tulang patah dengan luka terbuka sampai ketulang yang disebut patah tulang terbuka. Patah tulang yang didekat sendi atau yang mengenai sendi dapat menyebabkan patah tulang disertai luksasi sendi yang disebut fraktur dislokasi.

IV. Klasifikasi patah tulang.

Patah tulang dapat dibagi menurut ada tidanya hubungan antara patahan tulang denga dunia luar, yaitu patah tulang tertutup dan patah tulang terbuka yang memungkinkan kuman dari luar dapat masuk kedalam luka sampai ke tulang yang patah.

Patah tulang terbuka dibagi menjadi tiga derajat yang ditentukan oleh berat ringannya luka dan berat ringannya patah tulang.

Patang tulang juga dapat dibagi menurut garis fraktrunya misanya fisura, patah tulang sederhana, patah tulang kominutif ( pengecilan, patah tulang segmental,patah tulang impaksi ), patah tulang kompresi, impresi dan patah tulang patologis.

Derajat patah tulang terbuka terbagi atas 3 macam yaitu :

1. laserasi <>

2. Laserasi > 2 cm kontusi otot diserkitarnya bentuknya dislokasi, fragmen jelas

3. Luka lebar, rusak hebat atau hilangnya jaringan disekitarnya bentuknya kominutif, segmental,fragmen tulang ada yang hilang

Jenis patah tulang dapat digolongkan menjadi :

1. Visura ( Diafisis metatarsal

2. Serong sederhana ( Diaphisis metacarpal )

3. Lintang sederhana ( diafisis tibia )

4. Kominutif ( Diafisis femur )

5. Segmental ( Diafisis tibia )

6. Dahan hijau ( diafisis radius pada anak )

7. Kompresi ( Korpus vertebral th. XII )

8. Impaksi ( epifisis radius distal,kolum femur lateral )

9. Impresi ( tulang tengkorak )

10. Patologis ( Tomur diafisi humerus,kurpus vertebral)

V. Komplikasi patah tulang .

Komplikasi patah tulang meliputi :

1. Komplikasi segera

Lokal :

· Kulit( abrasi l;acerasi, penetrasi)

· Pembuluh darah ( robek )

· Sistem saraf ( Sumssum tulang belakang, saraf tepi motorik dan sensorik)

· Otot

· Organ dalam ( jantung,paru,hepar, limpha(pada Fr.kosta),kandung kemih (Fr.Pelvics)

Umum :

· Ruda paksa multiple

· Syok ( hemoragik, neurogenik )

2. Komplikas Dini :

Lokal :

· Nekrosis kulit, gangren, sindroma kopartemen,trombosis vena, infeksi sendi,osteomelisis )

Umum :

· ARDS,emboli paru, tetanus.

3. Kompliasi lama

Lokal :

· Sendi (ankilosis fibrosa, ankilosis osal )

· Tulang ( gagal taut/lama dan salah taut,distropi reflek,osteoporosisi paskah trauma,ggn pertumbuhan,osteomelisis,patah tulang ulang)

· Otot atau tendon ( penulangan otot, ruptur tendon )

· Saraf ( kelumpuhan saraf lambat

Umum :

· Batu ginjal ( akibat mobilisasi lama ditempat tidur)

VI. Penatalaksanaan patah tulang.

Penatalaksanaan patah tulang mengikuti prinsip pengobatan kedokteran pada umumnya yang meliputi :

a. Jangan ciderai pasien( Primum Non Nocere).

b. Pengobatan yang tepat berdasarkanb diagnosis dan prognosisnya

c. Sesuai denga hokum alam

d. Sesuai dengan kepribadian individu

Khusus untuk patah tulang meliputi :

4. Reposisi

5. Imobilisasi

6. Mobilisasi berupa latihan seluruh system tubuh.

VII. Asuhan keperawatan.

ASUHAN KEPERAWATAN

1. Riwayat perjalanan penyakit.

2. Riwayat pengobatan sebelumnya.

3. Pertolongan pertama yang dilakukan

4. Pemeriksaan fisik :

§ Identifikasi fraktur

§ Inspeksi

§ Palpasi (bengkak, krepitasi, nadi, dingin)

§ Observasi spasme otot.

5. Pemeriksaan diagnostik :

§ Laboratorium (HCt, Hb, Leukosit, LED)

§ RÖ

§ CT-Scan

6. Obat-obatan : golongan antibiotika gram (+) dan gram (-)

§ Penyakit yang dapat memperberat dan mempermudah terjadinya fraktur :

a. Osteomyelitis acut

b. Osteomyelitis kronik

c. Osteomalacia

d. Osteoporosis

e. Gout

f. Rhematoid arthritis

PENGKAJIAN SISTEM MUSKULOSKELETAL

DATA SUBYEKTIF

§ Data biografi

§ Adanya nyeri, kekakuan, kram, sakit pinggang, kemerahan, pembengkakan, deformitas, ROM, gangguan sensasi.

§ Cara PQRST :

o Provikatif (penyebab)

o Quality (bagaimana rasanya, kelihatannya)

o Region/radiation (dimana dan apakah menyebar)

o Severity (apakah mengganggu aktivitas sehari-hari)

o Timing (kapan mulainya)

§ Pengkajian pada sistem lain

o Riwayat sistem muskuloskeletal, tanyakan juga tentang riwayat kesehatan masa lalu.

o Riwayat dirawat di RS

o Riwayat keluarga, diet.

o Aktivitas sehari-hari, jenis pekerjaan, jenis alas kaki yang digunakan

o Permasalahan dapat saja baru diketahui setelah klien ganti baju, membuka kran dll.

DATA OBYEKTIF

§ Inspeksi dan palpasi ROM dan kekuatan otot

§ Bandingakan dengan sisi lainnya.

§ Pengukuran kekuatan otot (0-5)

§ Duduk, berdiri dan berjalan kecuali ada kontra indikasi.

§ Kyposis, scoliosis, lordosis.

PROSEDUR DIAGNOSTIK

  1. X-ray dan radiography
  2. Arthrogram (mendiagnosa trauma pada kapsul di persendian atau ligamen). Anestesi lokal sebelum dimasukkan cairan kontras/udara ke daerah yang akan diperiksa.
  3. Lamnograph (untuk mengetahui lokasi yang mengalami destruksi atau mengevaluasi bone graf).
  4. Scanograph (mengetahui panjang dari tulang panjang, sering dilakukan pada anak-anak sebelum operasi epifisis).
  5. Bone scanning (cairan radioisotop dimasukkan melalui vena, sering dilakukan pada tumor ganas, osteomyelitis dan fraktur).
  6. MRI
  7. Arthroscopy (tindakan peneropongan di daerah sendi)
  8. Arthrocentesis (metode pengambilan cairan sinovial)

MASALAH-MASALAH YANG UMUM TERJADI

  1. Gangguan dalam melakukan ambulasi.

· Berdampak luas pada aspek psikososial klien.

· Klien membutuhkan imobilisasi → menyebabkan spasme otot dan kekakuan sendi

· Perlu dilakukan ROM untuk menguragi komplikasi :

- Kaki (fleksi, inverse, eversi, rotasi)

- Pinggul (abduksi, adduksi, fleksi, ekstensi, rotasi)

- Lutut (ekstensi)

- Jari-jari kaki (ektensi, fleksi)

  1. Nyeri; tindakan keperawatan :

· Merubah posisi pasien

· Kompres hangat, dingin

· Pemijatan

· Menguragi penekanan dan support social

· Apabila nyeri di sendi, perlu dikaji :

- Kejadian sebelum terjadinya nyeri

- Derajat nyeri pada saat nyeri pertama timbul

- Penyebaran nyeri

- Lamanya nyeri

- Intensitas nyeri, apakah menyertai pergerakan

- Sumber nyeri

- Hal-hal yang dapat mengurangi nyeri.

  1. Spasme otot

· Spasme otot (kram/kontraksi otot involunter)

· Spasme otot dapat disebabkan iskemi jaringan dan hipoksia.

· Tindakan keperawatan :

a. Rubah posisi

b. Letakkan guling kecil di bawah pergelangan kaki dan lutut

c. Berikan ruangan yang cukup hangat

d. Hindari pemberian obat sedasi berat → dapat menurunkan aktivitas pergerakan selama tidur

e. Beri latihan aktif dan pasif sesuai program

INTERVENSI

1. Istirahat

· Istirahat adalah intervensi utama

· Membantu proses penyembuhan dan meminimalkan inflamasi, pembengkakan dan nyeri.

· Pemasangan bidai/gips.

1. Kompres hangat

· Rendam air hangat/kantung karet hangat

· Diikuti dengan latihan pergerakan/pemijatan

· Dampak fisiologis dari kompres hangat adalah :

o Perlunakan jaringan fibrosa

o Membuat relaks otot dan tubuh

o Menurunkan atau menghilangkan nyeri

o Meningkatkan suplai darah/melancarkan aliran darah.

2. Kompres dingin

· Metoda tidak langsung seperti cold pack

· Dampak fisiologis adalah vasokonstriksi dan penerunan metabolic

· Membantu mengontrol perdarahan dan pembengkakan karena trauma

· Nyeri dapat berkurang, dapat menurunkan aktivitas ujung saraf pada otot

· Harus hati-hati, dapat menyebabkan jaringan kulit nekrosis

· Tidak sampai > 30 menit.

DAFTAR PUSTAKA

1. Tucker,Susan Martin (1993). Standar Perawatan Pasien, Edisi V, Vol 3. Jakarta. EGC

2. Donges Marilynn, E. (1993). Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Jakarta. EGC

3. Smeltzer Suzanne, C (1997). Buku Ajar Medikal Bedah, Brunner & Suddart. Edisi 8. Vol 3. Jakarta. EGC

4. Price Sylvia, A (1994), Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jilid 2 . Edisi 4. Jakarta. EGC

ARTIKEL BERKAITAN